Review Film How to Train Your Dragon

Review Film How to Train Your Dragon

Review Film How to Train Your Dragon. Film How to Train Your Dragon versi live-action yang tayang pada pertengahan Juni 2025 berhasil menarik perhatian banyak penonton sebagai adaptasi ulang dari animasi klasik tahun 2010 yang sangat dicintai, di mana sutradara Dean DeBlois kembali memimpin proyek ini sehingga nuansa orisinal tetap terjaga meskipun formatnya berubah menjadi live-action dengan sentuhan CGI yang masif, cerita mengikuti petualangan Hiccup, seorang remaja Viking yang tidak seperti kebanyakan penduduk desanya yang memusuhi naga, justru menemukan persahabatan tak terduga dengan Toothless seekor Night Fury yang misterius dan langka, film ini membawa kembali elemen petualangan, humor, serta pesan mendalam tentang penerimaan dan perdamaian antara manusia dan makhluk yang selama ini dianggap musuh, dengan durasi sekitar dua jam lebih sedikit film ini terasa lebih panjang dari versi animasi asli karena penambahan beberapa adegan yang memperkaya dunia Viking serta interaksi karakter, hingga kini film ini terus menjadi bahan pembicaraan karena berhasil menyuguhkan visual spektakuler sekaligus mempertahankan hati dari cerita aslinya meskipun tidak semua orang setuju bahwa remake ini benar-benar diperlukan. MAKNA LAGU

Pemeran dan Penampilan Karakter: Review Film How to Train Your Dragon

Pemeran utama Mason Thames sebagai Hiccup berhasil membawa karakter yang canggung namun penuh tekad dengan cara yang sangat meyakinkan, di mana ia mampu menampilkan perubahan emosional dari anak muda yang dianggap gagal menjadi pahlawan yang bijaksana tanpa terkesan berlebihan, Nico Parker sebagai Astrid memberikan energi kuat dan chemistry yang alami dengan Hiccup sehingga hubungan mereka terasa organik serta berkembang secara halus sepanjang cerita, Gerard Butler kembali memerankan Stoick the Vast dengan suara berat serta kehadiran fisik yang mendominasi layar meskipun kali ini dalam format live-action sehingga terasa lebih mengintimidasi namun tetap punya sisi lembut sebagai ayah, para pemeran pendukung seperti Nick Frost sebagai Gobber memberikan sentuhan humor yang pas tanpa mengganggu alur utama, secara keseluruhan casting ini berhasil membuat penonton merasa karakter-karakter ikonik dari animasi hidup kembali dengan baik meskipun beberapa orang merasa performa mereka tidak sepenuhnya bisa menyamai ekspresi berlebih yang dimiliki versi animasi, tapi justru itulah yang membuat adaptasi ini terasa lebih grounded dan relatable bagi penonton dewasa yang menonton ulang cerita ini bersama anak-anak mereka.

Visual dan Efek Khusus: Review Film How to Train Your Dragon

Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada visual serta efek CGI yang luar biasa terutama dalam penggambaran naga-naga yang terasa sangat realistis namun tetap mempertahankan pesona kartun asli, desain Toothless sebagai Night Fury berhasil menjadi highlight karena detail sisik, ekspresi mata, serta gerakan sayapnya yang halus membuatnya terasa hidup dan emosional sehingga momen-momen terbang bersama Hiccup terasa magis serta memukau, adegan pertarungan udara serta desa Viking yang dibangun dengan skala besar memberikan nuansa epik yang lebih terasa megah dibandingkan versi animasi, pencahayaan serta sinematografi juga patut dipuji karena berhasil menangkap keindahan lanskap Islandia yang terinspirasi serta kontras antara kegelapan malam dengan kobaran api naga, meskipun beberapa kritikus menyebut bahwa CGI kadang terasa terlalu sempurna hingga kehilangan sedikit kehangatan animasi 2D asli, secara teknis film ini termasuk salah satu adaptasi live-action terbaik tahun ini karena hampir tidak ada momen di mana efek visual mengganggu imersi cerita, membuat penonton benar-benar terbawa ke dunia Berk yang penuh naga dan petualangan.

Cerita dan Pesan yang Disampaikan

Cerita mengikuti alur yang hampir identik dengan film animasi asli di mana Hiccup belajar bahwa naga bukan monster melainkan makhluk yang bisa dipahami dan berteman sehingga membawa perubahan besar bagi desanya yang selama ini hidup dalam ketakutan, penambahan durasi memungkinkan pengembangan lebih dalam pada hubungan ayah-anak antara Hiccup dan Stoick serta dinamika persahabatan antara manusia dan Toothless yang terasa lebih emosional karena ekspresi aktor serta CGI yang mendukung, pesan utama tentang mengatasi prasangka, keberanian menjadi diri sendiri, serta pentingnya empati tetap menjadi inti yang kuat dan relevan terutama di era sekarang di mana banyak konflik muncul dari salah paham, meskipun beberapa orang merasa remake ini terlalu setia pada sumber asli sehingga kurang inovasi atau kejutan baru, pendekatan aman ini justru menjadi kekuatan karena berhasil menghidupkan kembali cerita yang sudah dicintai tanpa merusak esensinya, membuat film ini cocok sebagai tontonan keluarga yang bisa dinikmati lintas generasi sambil mengingatkan bahwa persahabatan sejati sering datang dari tempat yang paling tak terduga.

Kesimpulan: Review Film How to Train Your Dragon

Secara keseluruhan How to Train Your Dragon versi live-action ini berhasil menjadi adaptasi yang layak dan menghibur meskipun tidak sepenuhnya mengungguli keajaiban animasi aslinya, dengan visual memukau, penampilan pemeran yang solid, serta cerita yang tetap hangat serta bermakna film ini memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan bagi penggemar lama maupun penonton baru yang belum pernah menyaksikan versi sebelumnya, meskipun ada catatan bahwa beberapa elemen terasa lebih aman dan kurang berani bereksperimen remake ini tetap berhasil mempertahankan jiwa petualangan serta pesan positif yang membuat franchise ini begitu dicintai selama bertahun-tahun, bagi siapa saja yang menyukai cerita tentang persahabatan tak terduga serta keberanian melawan norma film ini patut ditonton di layar lebar untuk merasakan skala epiknya secara maksimal, dan di tengah maraknya remake serta adaptasi ulang film ini menjadi contoh bahwa ketika dilakukan dengan hati serta rasa hormat terhadap materi asli hasilnya bisa menjadi sesuatu yang benar-benar berharga bagi penonton dari berbagai usia.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *