Review Film Twister. Film Twister (2024) hadir sebagai sekuel resmi setelah hampir tiga dekade sejak film aslinya rilis pada 1996. Cerita kali ini mengikuti Kate Cooper, mantan pemburu badai yang trauma setelah kehilangan rekan di tornado besar, dan Tyler Owens, pemburu tornado selebgram yang lebih mementingkan konten viral daripada data ilmiah. Keduanya akhirnya bersatu menghadapi badai supercell terbesar dalam sejarah Oklahoma. Dengan visual efek yang memukau dan intensitas adrenalin tinggi, film ini berhasil membawa kembali semangat petualangan bencana ala 90-an sambil menawarkan sentuhan modern. Di tahun 2026, ketika penonton sudah terbiasa dengan CGI canggih, Twister tetap mampu membuat penonton terpaku di kursi selama dua jam penuh. REVIEW WISATA
Plot dan Karakter yang Mengalir Cepat: Review Film Twister
Alur cerita berjalan tanpa banyak basa-basi. Kate kembali ke Oklahoma setelah bertahun-tahun menjauh dari dunia pemburuan tornado karena rasa bersalah atas insiden masa lalu. Ia membawa teknologi baru berupa partikel pelacak yang diharapkan bisa memetakan struktur tornado dari dalam. Tyler, sang “tornado cowboy” dengan rombongan besar dan kendaraan modifikasi, awalnya terlihat sebagai antagonis karena gaya sembrono dan fokus pada sensasi. Namun seiring badai semakin ganas, kedua kubu mulai bekerja sama.
Karakter utama punya chemistry yang cukup kuat meski tidak terlalu dalam. Kate digambarkan sebagai ilmuwan serius yang terbebani masa lalu, sementara Tyler adalah sosok karismatik yang menyembunyikan rasa hormat besar terhadap ilmu di balik image “showman”. Konflik pribadi mereka tidak terlalu rumit, tapi cukup untuk memberikan taruhan emosional di tengah kekacauan badai. Penampilan pendukung, terutama kru Tyler dan tim Kate, menambah warna tanpa mencuri perhatian berlebihan. Dialog tetap ringan, penuh humor khas Amerika, dan tidak pernah terasa bertele-tele.
Visual dan Efek Suara yang Menjadi Bintang Utama: Review Film Twister
Bagian terkuat film ini jelas visual dan sound design-nya. Adegan tornado dibuat sangat realistis—dari pusaran angin yang mengangkat truk hingga rumah yang terbelah dua. CGI digunakan secara cerdas: tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat penonton merasa benar-benar berada di dalam badai. Suara angin, deru petir, dan hujan deras dirancang dengan detail sehingga terasa menggetarkan. Saat tornado mendekat, tekanan udara yang berubah hampir bisa dirasakan di bioskop.
Adegan-adegan aksi seperti mengejar tornado dengan truk, melompat ke dalam aliran angin, atau bertahan di tengah hujan puing terasa sangat intens. Sutradara berhasil menjaga ritme agar penonton tidak lelah meski film penuh dengan sequence bencana. Transisi dari tenang ke chaos dilakukan dengan mulus, membuat setiap kemunculan tornado terasa seperti kejutan baru.
Kelemahan dan Kekuatan Keseluruhan
Film ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa subplot terasa terlalu cepat diselesaikan, dan elemen drama pribadi Kate kadang terasa klise. Karakter antagonis dari pihak korporasi juga agak datar dan hanya berfungsi sebagai pemicu konflik. Namun kelemahan itu tertutupi oleh eksekusi teknis yang luar biasa dan durasi yang pas—film tidak memanjangkan cerita hingga kehilangan tenaga.
Kekuatan terbesar Twister adalah kemampuannya menghibur tanpa pretensi. Ini adalah film popcorn murni: adrenalin tinggi, visual memukau, dan rasa nostalgia yang tidak dipaksakan. Film berhasil menghormati pendahulunya tanpa sekadar meniru, sekaligus menawarkan sesuatu yang segar bagi penonton generasi baru.
Kesimpulan
Twister (2024) berhasil menjadi sekuel yang layak ditunggu. Ia tidak mencoba menjadi film drama berat atau komentar sosial mendalam, melainkan menghidupkan kembali genre bencana dengan cara yang paling menyenangkan: visual spektakuler, aksi tanpa henti, dan karakter yang cukup untuk membuat penonton peduli. Bagi penggemar film asli, ini adalah reuni yang memuaskan. Bagi penonton baru, ini adalah pengalaman sinematik yang memacu jantung dan membuat mata tak berkedip. Jika Anda mencari film yang membuat bioskop terasa seperti roller coaster raksasa, Twister adalah pilihan tepat. Di tahun 2026, ketika banyak film besar terasa berat atau rumit, film ini mengingatkan kita bahwa terkadang yang dibutuhkan hanyalah badai besar, truk cepat, dan adrenalin murni.