Review Film The Autopsy of Jane Doe

review-komik-the-autopsy-room

Review Film The Autopsy of Jane Doe. Di akhir 2025, film horor The Autopsy of Jane Doe (2016) masih sering dibicarakan sebagai salah satu thriller supernatural paling cerdas dan mencekam di dekade terakhir. Disutradarai André Øvredal, film ini ikuti ayah dan anak ahli forensik yang autopsi mayat wanita tak dikenal—disebut Jane Doe—yang ditemukan di TKP pembunuhan massal misterius. Apa yang awalnya tampak kasus biasa berubah jadi mimpi buruk saat autopsi ungkap rahasia aneh dan kejadian supranatural mulai terjadi di ruang mayat. Dengan setting terbatas satu lokasi, film ini andalkan atmosfer tegang, akting solid, dan twist cerdas untuk beri pengalaman horor yang tak mudah dilupakan. INFO TOGEL

Plot dan Build-Up Ketegangan yang Efektif: Review Film The Autopsy of Jane Doe

Cerita fokus pada Tommy dan Austin, duo ayah-anak yang jalankan bisnis forensik keluarga. Malam itu, mereka terima mayat Jane Doe yang luar biasa terawat—kulit mulus tanpa luka luar—tapi dalamnya penuh misteri: tulang patah, paru-paru terbakar, lidah hilang. Saat autopsi berlanjut, hal aneh muncul: lampu berkedip, radio nyanyi sendiri, suara langkah di koridor, hingga mayat lain seolah hidup kembali. Build-up ketegangan sangat baik—mulai dari rasa penasaran ilmiah jadi teror supranatural tanpa terburu-buru. Film ini pintar mainkan ekspektasi: gore autopsi realistis campur elemen psikologis, bikin penonton tegang tanpa banyak jump scare murahan. Twist bertahap ungkap identitas Jane Doe jadi klimaks yang memuaskan, meski akhirnya agak gelap dan terbuka.

Akting dan Atmosfer yang Menjadi Kekuatan Utama: Review Film The Autopsy of Jane Doe

Akting duo utama jadi pondasi kuat film ini. Tommy, ahli forensik berpengalaman yang skeptis, dan Austin, anaknya yang mulai ragu ikut bisnis keluarga, punya chemistry alami—dialog mereka terasa hangat tapi tegang, tambah lapisan emosional saat teror datang. Jane Doe sendiri, dimainkan aktris yang berbaring diam sepanjang film, beri aura mengancam hanya lewat ekspresi halus dan kehadiran fisik—prestasi luar biasa. Atmosfer ruang mayat sempit, gelap, dan basah ciptakan claustrophobia sempurna, dukung suara hujan deras dan musik minimalis yang naik perlahan. Øvredal pintar batasi lokasi jadi satu bangunan, buat setiap suara atau bayangan terasa ancaman nyata, tanpa perlu efek CGI berlebih.

Tema dan Ending yang Membuat Berpikir

Film ini eksplor tema batas sains versus supranatural, serta ironi penyiksaan yang ciptakan monster. Jane Doe ternyata korban witch hunt abad 17—disiksa tapi tak mati, malah jadi entitas abadi yang balas dendam lewat rasa sakit yang ditimbulkan orang lain padanya. Endingnya pahit: upaya hentikan teror gagal, dan mayat dikirim ke tempat lain sambil jari kakinya bergerak—hint siklus teror berlanjut. Tema ini kritik sejarah perburuan penyihir, tunjukkan bagaimana ketidakadilan ciptakan kejahatan abadi. Meski ada kritik plot agak inkonsisten di akhir, film ini tetap kuat karena tak beri jawaban mudah, biarkan penonton renung soal apa yang “hidup” sebenarnya.

Kesimpulan

The Autopsy of Jane Doe jadi film horor yang cerdas dan atmosferik di 2025, dengan ketegangan build-up lambat tapi mematikan, akting solid, dan tema mendalam soal sains, supranatural, serta balas dendam. Cocok buat penggemar horor psikologis yang suka setting terbatas seperti The Conjuring atau Oculus, tapi dengan sentuhan forensik unik. Meski gore cukup intens, film ini lebih andalkan sugesti dan misteri daripada darah semata. Rekomendasi tinggi untuk malam sendirian—dijamin beri chills berkelas tanpa murahan. Klasik modern yang patut ditonton ulang untuk tangkap detail halusnya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *