Review Film Minari. Film Minari (2020) karya sutradara Lee Isaac Chung terus menjadi sorotan di tahun 2026, enam tahun setelah rilisnya, sebagai potret autentik kehidupan imigran Korea-Amerika di pedesaan Arkansas tahun 1980-an. Cerita semi-otobiografis ini mengikuti keluarga Yi yang meninggalkan California untuk mengejar mimpi pertanian Jacob, ayah keluarga. Dengan dialog campur Korea dan Inggris, visual alam Ozarks yang memukau, serta penampilan kuat dari Steven Yeun sebagai Jacob dan Youn Yuh-jung sebagai nenek Soon-ja, film ini memenangkan enam nominasi Oscar termasuk Best Picture, serta Golden Globe Best Foreign Language Film—meski menuai kontroversi karena dianggap cerita Amerika tulen. Kini, di tengah diskusi warisan film Asia-Amerika, Minari tetap relevan sebagai cerminan ketangguhan imigran. TIPS MASAK
Ringkasan Cerita dan Latar Belakang: Review Film Minari
Cerita Minari berpusat pada keluarga Yi: Jacob (Steven Yeun), Monica (Yeri Han), anak perempuan Anne (Noel Kate Cho), dan David (Alan S. Kim) yang punya masalah jantung. Jacob yakin tanah Arkansas adalah “tanah terbaik di Amerika” untuk menanam sayur Korea seperti minari, tanaman tahan banting yang jadi simbol film. Mereka tinggal di trailer reyot, kerja sampingan sortir anak ayam di pabrik, sambil hadapi kekeringan, hutang, dan konflik rumah tangga. Kedatangan Soon-ja dari Korea bawa dinamika baru: ia kasar, suka Mountain Dew, tapi ajari David nilai ketangguhan. Tragedi kebakaran gudang jadi klimaks, tapi akhir ambigu tunjukkan keluarga pilih bertahan, panen minari di sungai—simbol harapan organik. Semi-otobiografis dari masa kecil Chung di Arkansas, film ini hindari klise imigran kota besar, fokus pedesaan Amerika.
Tema Utama: Ketangguhan Keluarga dan American Dream: Review Film Minari
Minari gali tema American Dream versi imigran Asia: Jacob obsesi tanah subur sebagai jalan sukses, tapi Monica khawatir stabilitas anak-anak, nunjukin konflik pengorbanan perempuan. Ketangguhan keluarga jadi inti—Soon-ja bawa akar Korea via minari yang tumbuh liar di sungai, simbol identitas bertahan meski tanah asing. Alam Ozarks jadi karakter: angin, air kering, api kebakaran uji mereka, tapi juga sembuhkan via iman Jacob dan tetangga eksentrik Will Patton yang bawa salib kayu. Tema isolasi budaya halus: David hadapi rasisme ringan di gereja tapi langsung diajak main, nunjukin kontradiksi Arkansas 1980-an. Bukan cerita asimilasi paksa, tapi adaptasi organik di mana Korea dan Amerika saling campur, seperti Soon-ja ajari David hwatu sambil minum soda Amerika.
Penampilan Aktor dan Sinematografi
Steven Yeun beri performa karismatik tapi rapuh sebagai Jacob—ayah gigih tapi egois yang tolak bantuan tetangga karena “harus mandiri”. Yeri Han menyayat sebagai Monica, ibu yang tekanan emosionalnya pecah saat lihat anak sakit. Youn Yuh-jung curi perhatian sebagai Soon-ja: nenek kasar tapi penuh cinta, yang Oscar Supporting Actress-nya jadi sejarah pertama Korea menang akting—ia tolak label “asing” karena cerita Amerika. Alan S. Kim debut gemilang sebagai David yang diam tapi observatif, soroti perspektif anak. Sinematografi Lachlan Milne ciptakan nuansa Malick-esque: shot panjang rumput tinggi, cahaya senja trailer, suara alam dominan dialog. Skor Emile Mosseri minimalis tapi emosional, perkuat rasa nostalgia tanpa manipulatif.
Penerimaan Kritis dan Warisan Budaya
Minari debut Sundance 2020 raih Grand Jury dan Audience Award Dramatic, rating 98% Rotten Tomatoes (rata 8.7/10), Metacritic 89/100—puji autentik, intim, hindari klise. Kontroversi Golden Globe Foreign Language (meski menang) picu debat: Lulu Wang bilang “film paling Amerika” karena imigran kejar mimpi di AS, tapi aturan bahasa >50% non-Inggris blokir Best Picture. Oscar enam nominasi termasuk Best Picture/Director, tapi hanya Youn menang—Yeun kalah dari Anthony Hopkins. Box office $15 juta dari budget $2 juta, sukses virtual pandemi. Warisan 2026: dorong film Asia-Amerika seperti Past Lives, bukti cerita pedesaan imigran pun universal. Di Indonesia, review X sejak 2024 puji “realistis American Dream Asia”, meski kritik ending ambigu dan nenek “non-fungsional”.
Kesimpulan
Minari bukan sekadar immigrant story, tapi ode ketangguhan keluarga Yi di Arkansas—dari trailer reyot ke panen minari liar, simbol akar bertahan meski mimpi retak. Tema pengorbanan, iman, identitas Korea-Amerika, plus performa Yeun-Youn ikonik, buat film abadi. Kontroversi kategori award justru bukti relevansinya: Amerika bukan monolingual, mimpi imigran bagian inti bangsa. Enam tahun kemudian, Minari ingatkan bahwa sukses butuh waktu seperti minari—tahan banting, tumbuh pelan, tapi akhirnya jadi rumah. Film ini ajak tonton ulang untuk pahami: di balik perjuangan, keluarga tetap akar terkuat.