Review Film City of God

review-film-city-of-god-2

Review Film City of God. “City of God” kembali menjadi bahan perbincangan karena relevansinya yang terasa tidak pernah pudar. Film ini menghadirkan potret keras kehidupan di lingkungan permukiman padat penduduk, dengan fokus pada tumbuh kembang para remaja di tengah kekerasan, kemiskinan, dan tarik-menarik pengaruh kejahatan. Ceritanya disajikan dengan ritme yang cepat, intens, serta penuh ketegangan emosional. Dalam beberapa diskusi terkini, film ini kembali diangkat bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai karya yang menyentuh isu sosial yang masih aktual hingga sekarang: ketimpangan, mimpi anak muda, dan lingkaran kekerasan yang sulit diputus. Daya tarik utamanya terletak pada cara film ini bercerita—tajam, jujur, dan tanpa hiasan berlebihan. BERITA BOLA

Potret kerasnya realitas dan kehilangan masa kanak-kanak: Review Film City of God

Salah satu kekuatan terbesar “City of God” adalah keberaniannya menyajikan realitas secara gamblang. Penonton diajak melihat bagaimana anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain justru dihadapkan pada pilihan hidup yang ekstrem: bertahan, ikut arus, atau menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri. Narasi menunjukkan bahwa lingkungan dapat membentuk karakter seseorang dengan sangat kuat. Tidak sedikit tokoh yang kehilangan masa kanak-kanak mereka karena tuntutan bertahan hidup. Film ini tidak menggurui, namun memperlihatkan kenyataan pahit bahwa mimpi dan harapan sering kali berbenturan dengan kondisi sosial yang keras. Penonton dibuat merenung, bahwa di balik statistik kejahatan dan kemiskinan, ada manusia dengan cerita masing-masing.

Penceritaan yang dinamis dan sudut pandang yang hidup: Review Film City of God

Film ini memanfaatkan teknik penceritaan yang dinamis, menggabungkan alur maju-mundur dengan sudut pandang narator yang dekat dengan peristiwa. Alur yang tidak linear justru membantu penonton memahami latar belakang setiap tokoh dan bagaimana keputusan kecil di masa lalu berujung pada konsekuensi besar di masa depan. Kecepatan ritme cerita diselingi momen hening yang menegangkan, memberi ruang bagi emosi untuk bekerja. Penggambaran karakter-karakternya terasa hidup: memiliki ketakutan, ambisi, dan kerentanan. Penonton tidak hanya melihat tokoh sebagai “baik” atau “buruk”, melainkan sebagai individu yang dibentuk oleh keadaan. Hal ini membuat “City of God” terasa manusiawi, meski dipenuhi adegan kekerasan.

Kritik sosial tentang lingkaran kekerasan dan ketimpangan

Di balik kisah kriminal, film ini memuat kritik sosial yang tajam. Lingkaran kekerasan digambarkan bukan sebagai peristiwa terpisah, tetapi sebagai hasil sistem yang tidak adil. Generasi demi generasi seakan terperangkap dalam pola yang sama: minim akses pendidikan layak, terbatasnya peluang ekonomi, dan keterpaksaan memilih jalan pintas. Film ini mengajak penonton melihat bahwa kejahatan tidak lahir begitu saja, melainkan tumbuh dari tanah yang subur oleh ketidaksetaraan. Selain itu, film menunjukkan bagaimana rasa takut dan kekuasaan berperan dalam mengatur kehidupan sehari-hari warga setempat. Pesan tersiratnya jelas: untuk memutus lingkaran tersebut, dibutuhkan perubahan struktural, bukan hanya penghukuman individu.

kesimpulan

Secara keseluruhan, “City of God” adalah film yang menggugah sekaligus mengganggu kenyamanan penontonnya—dalam arti positif. Ia mengajak kita melihat realitas yang sering diabaikan, menyadarkan bahwa di balik layar aksi dan drama terdapat refleksi sosial yang mendalam. Relevansinya tetap terasa hingga kini karena isu yang diangkat masih dekat dengan kehidupan banyak orang di berbagai belahan dunia: ketimpangan, masa depan anak muda, dan pertarungan antara harapan serta keputusasaan. Dengan penceritaan yang kuat dan karakter yang membekas, film ini layak terus diperbincangkan. “City of God” bukan hanya tontonan, tetapi pengalaman yang meninggalkan pertanyaan penting: seperti apa peluang bagi mereka yang tumbuh di tengah keterbatasan, dan apa peran kita melihat serta memahami realitas tersebut.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *