Review Film Buya Hamka Vol 1: Perjalanan Perjuangan Dakwah. Film Buya Hamka Vol 1 yang tayang 19 Desember 2023 langsung menjadi salah satu karya biografi paling dinanti di Indonesia sepanjang akhir 2023 hingga awal 2026. Disutradarai Fajar Bustomi dan diproduksi MD Pictures, film ini berhasil menarik lebih dari 5 juta penonton di bioskop dan terus ramai dibahas di platform streaming serta media sosial. Vol 1 mengisahkan masa muda hingga awal kedewasaan Haji Abdul Malik Karim Amrullah—Buya Hamka—(diperankan Reza Rahadian) dari kampung halaman di Maninjau, Sumatera Barat, hingga mulai menapaki perjuangan dakwah, menulis, dan membela nilai-nilai Islam di tengah penjajahan Belanda. Durasi 135 menit ini tidak hanya menyajikan kisah hidup seorang ulama besar, melainkan juga potret perjuangan dakwah yang penuh liku, konflik batin, dan keteguhan iman di masa kolonial. Review ini mengupas makna utama cerita: perjalanan perjuangan dakwah Buya Hamka sebagai simbol ketekunan, keberanian intelektual, dan pengabdian tanpa pamrih. INFO SAHAM
Sinopsis dan Alur yang Mengalir Kuat: Review Film Buya Hamka Vol 1: Perjalanan Perjuangan Dakwah
Vol 1 dimulai dari masa kecil Hamka di Maninjau, di mana ia tumbuh di lingkungan keluarga ulama yang taat tapi juga penuh pergolakan. Ayahnya, Haji Rasul, adalah tokoh pembaharu Islam di Minangkabau yang sering bentrok dengan adat dan kolonial Belanda. Hamka kecil (diperankan aktor cilik) sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap agama dan dunia. Alur kemudian berpindah ke masa remaja dan dewasa muda: Hamka belajar di berbagai surau, mulai menulis artikel kritik di surat kabar, mendirikan organisasi Muhammadiyah cabang Sumatera Barat, hingga menghadapi penjara Belanda karena tulisan-tulisannya yang tajam. Kisah cinta dengan Siti Raham (Luna Maya) juga disajikan dengan lembut—pertemuan mereka, pernikahan sederhana, dan bagaimana Raham menjadi pendamping setia di tengah perjuangan suami. Alur bergerak dengan tempo yang pas—tidak terburu-buru tapi juga tidak lambat—menampilkan momen-momen besar seperti pidato Hamka di depan ribuan orang, penangkapan oleh Belanda, dan tulisan-tulisan awal yang menjadi cikal bakal karya besarnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Fajar Bustomi berhasil menyeimbangkan antara adegan epik (pidato, demonstrasi) dengan momen intim keluarga—percakapan malam hari antara Hamka dan Raham, doa bersama anak-anak, dan surat-surat yang penuh cinta dan nasihat.
Kekuatan Sinematik dan Makna Perjuangan Dakwah: Review Film Buya Hamka Vol 1: Perjalanan Perjuangan Dakwah
Sinematografi film ini memanfaatkan lokasi asli di Sumatera Barat—Maninjau, Padang Panjang, dan masjid-masjid bersejarah—dengan warna-warna hangat untuk masa bahagia dan warna dingin untuk masa penjara serta konflik politik, menciptakan kontras emosional yang kuat. Rekaman masjid dan surau asli ditambah rekonstruksi suasana kolonial membuat nuansa historis terasa hidup. Tema perjuangan dakwah Buya Hamka di sini bukan cuma tentang ceramah atau tulisan, melainkan tentang keteguhan iman dan keberanian intelektual di tengah tekanan penjajah dan masyarakat adat yang kaku. Hamka digambarkan sebagai ulama yang tidak hanya berbicara dari mimbar, tapi juga hidup sesuai apa yang ia dakwahkan—miskin tapi kaya ilmu, berani tapi penuh kasih sayang pada keluarga. Peran Siti Raham sebagai pendamping setia menambah dimensi manusiawi: ia bukan sekadar istri di belakang layar, tapi mitra yang turut menanggung beban perjuangan suami. Reza Rahadian tampil luar biasa sebagai Buya Hamka—ia berhasil menangkap sisi intelektual, emosional, dan spiritual tokoh itu tanpa terlihat berlebihan. Adegan-adegan kunci seperti Hamka menulis di penjara dengan cahaya lilin atau percakapan terakhir dengan Raham menjadi momen paling berkesan karena terasa sangat tulus.
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Sampai Februari 2026, Hamka & Siti Raham Vol. 1 masih sering disebut sebagai salah satu biografi terbaik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir karena berhasil menghidupkan sosok Buya Hamka tanpa jatuh ke glorifikasi berlebihan. Banyak penonton menggunakan cuplikan dialog seperti “agama itu bukan cuma ibadah, tapi juga perjuangan” atau “cinta itu bukan cuma kata, tapi pengorbanan” sebagai caption di media sosial untuk mengenang nilai-nilai yang dibawa Hamka. Film ini juga membuka diskusi tentang peran ulama dalam sejarah bangsa, pentingnya integritas di tengah politik, dan keteguhan perempuan di balik perjuangan laki-laki. Di era di mana isu identitas keagamaan, nasionalisme, dan keluarga semakin banyak dibahas, pesan film ini terasa semakin relevan: perjuangan Buya Hamka bukan cuma masa lalu, tapi inspirasi untuk tetap teguh pada nilai di tengah zaman yang penuh tantangan.
Kesimpulan
Hamka & Siti Raham Vol. 1 bukan sekadar biografi ulama; ia adalah potret hangat dan jujur tentang perjuangan dakwah Buya Hamka sebagai manusia yang teguh pada iman, ilmu, dan keluarga di tengah badai zaman. Fajar Bustomi berhasil menyajikan kisah hidup Hamka dengan penuh hormat—tanpa lebay, tapi penuh emosi yang tulus. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa perjuangan sejati bukan tentang kemenangan instan, melainkan ketekunan, pengorbanan, dan warisan yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya. Bagi siapa pun yang pernah merasa lelah tapi tetap ingin bertahan demi nilai yang diyakini, film ini terasa seperti surat dari Buya Hamka sendiri: ya, perjalanan itu berat, tapi setiap langkah berarti.