Review Film A Family Affair: Cinta Ibu & Anak. Film “A Family Affair” yang baru saja tayang di Netflix pada akhir Juni 2024 menjadi sorotan sebagai rom-com yang menyegarkan dengan bintang-bintang besar. Disutradarai oleh Richard LaGravenese, yang dikenal lewat karya seperti “P.S. I Love You”, film ini mengeksplorasi dinamika keluarga yang rumit melalui lensa humor dan romansa. Nicole Kidman berperan sebagai Brooke Harwood, seorang penulis janda yang menemukan cinta tak terduga dengan aktor Hollywood egois, Chris Cole, yang dimainkan oleh Zac Efron. Sementara itu, Joey King sebagai Zara, putri Brooke, menjadi pusat konflik saat ia bekerja sebagai asisten Chris dan harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya terlibat asmara dengan bosnya. Dengan durasi sekitar 111 menit, film ini menawarkan campuran tawa ringan dan momen emosional tentang hubungan ibu-anak, identitas, dan pencarian kebahagiaan di usia dewasa. Meski mengikuti formula klasik rom-com, pesonanya terletak pada chemistry antar pemain dan satire halus terhadap industri hiburan. Banyak penonton melihat film ini sebagai hiburan santai pasca-pandemi, terutama bagi yang menyukai cerita tentang kedua kesempatan dalam cinta. MAKNA LAGU
Sinopsis Cerita: Review Film A Family Affair: Cinta Ibu & Anak
Cerita dimulai dengan Zara Ford, seorang asisten produksi berusia 20-an yang ambisius tapi frustrasi, bekerja untuk Chris Cole, superstar film yang narsis dan sulit ditangani. Chris, yang terkenal dengan franchise film superhero seperti “Icarus Rush”, sering membuat Zara kewalahan dengan tuntutannya yang absurd, seperti mencari anting berlian hilang atau mengatur pertemuan romantis. Suatu hari, Zara memutuskan berhenti dan pulang ke rumah ibunya, Brooke, seorang penulis buku sukses yang sedang mengalami writer’s block setelah kematian suaminya.
Konflik utama muncul ketika Zara secara tak sengaja menemukan Brooke dan Chris sedang bermesraan di rumah. Ternyata, keduanya bertemu secara kebetulan di sebuah toko kelontong, dan hubungan mereka berkembang cepat di tengah kesepian masing-masing. Zara, yang melihat Chris sebagai pria beracun yang sering berganti pasangan, merasa terkhianati dan khawatir ibunya akan terluka. Film kemudian menyelami kekacauan yang timbul: Zara berusaha memisahkan mereka, sementara Brooke menikmati romansa yang membuatnya merasa hidup lagi. Ada juga elemen pendukung seperti Leila, ibu mertua Brooke yang diperankan Kathy Bates, yang memberikan nasihat bijak dengan sentuhan humor, dan Eugenie, sahabat Zara yang dimainkan Liza Koshy, yang menambah warna komedi.
Plot bergerak dengan tempo cepat, penuh adegan slapstick seperti Zara yang menyelinap ke rumah Chris untuk mencari bukti, atau pesta Natal yang berantakan. Tema utama adalah cinta ibu dan anak: bagaimana Zara belajar melepaskan kontrol atas kehidupan ibunya, dan Brooke menyadari pentingnya mendukung impian putrinya. Meski predictable, cerita ini berhasil menyentuh isu seperti penuaan, kehilangan, dan tekanan Hollywood tanpa terlalu berat.
Penampilan Para Pemain: Review Film A Family Affair: Cinta Ibu & Anak
Penampilan para pemain menjadi kekuatan utama film ini. Nicole Kidman tampil memukau sebagai Brooke, membawa kedalaman emosional pada karakter yang sedang bergulat dengan identitas pasca-kehilangan. Kidman, yang baru saja membintangi serial seperti “Expats”, menunjukkan kemampuan komedinya dengan timing sempurna, terutama dalam adegan intim yang canggung dengan Efron. Zac Efron, setelah transformasi fisik di “The Iron Claw”, berhasil memerankan Chris sebagai pria tampan tapi rapuh, yang di balik egonya menyembunyikan ketakutan akan kegagalan. Chemistry antara Kidman dan Efron terasa alami, meski usia mereka berbeda 23 tahun, membuat romansa mereka believable dan menyenangkan untuk ditonton.
Joey King, yang dikenal dari “The Kissing Booth”, memberikan performa energik sebagai Zara. Karakternya yang cerewet dan protektif terhadap ibu menjadi jantung film, dengan dialog-dialog tajam yang sering mencuri perhatian. Kathy Bates sebagai Leila menambahkan lapisan hangat, dengan nasihat-nasihatnya yang lucu tapi bijaksana, sementara Liza Koshy membawa energi segar sebagai sahabat yang suportif. Secara keseluruhan, ensemble cast ini saling melengkapi, membuat film terasa hidup meski skripnya kadang klise. Sutradara LaGravenese berhasil mengarahkan mereka untuk menonjolkan sisi manusiawi, sehingga penonton bisa relate dengan perjuangan masing-masing karakter.
Respons Kritikus dan Penonton
Respons terhadap “A Family Affair” cukup beragam, mencerminkan sifat rom-com yang sering polarisasi. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus berada di sekitar 41 persen, dengan banyak yang mengkritik plot yang terlalu formulaik dan kurang inovasi. Beberapa kritikus menyebutnya sebagai versi Netflix dari “The Idea of You”, tapi dengan eksekusi yang kurang meyakinkan, terutama dalam handling tema usia dan romansa. Namun, ada pujian untuk humornya yang tajam dan satire terhadap budaya selebriti, seperti adegan Chris yang obsesif dengan citranya.
Di sisi lain, penonton lebih positif, dengan skor audiens mencapai 47 persen dan banyak ulasan di IMDB yang memberikan rating 5-6 dari 10. Banyak yang memuji film sebagai tontonan ringan yang sempurna untuk akhir pekan, terutama chemistry Kidman-Efron yang dianggap menawan. Di media sosial, penonton berbagi momen favorit seperti dialog lucu Zara atau akhir yang heartwarming. Beberapa mengapresiasi representasi perempuan dewasa yang masih bisa jatuh cinta, sementara yang lain mengkritik kurangnya kedalaman dalam konflik keluarga. Secara keseluruhan, film ini sukses streaming di Netflix, masuk top 10 di banyak negara, menandakan daya tariknya bagi penggemar genre rom-com yang tidak mencari sesuatu yang terlalu rumit.
Kesimpulan
“A Family Affair” berhasil menyajikan cerita hangat tentang cinta ibu dan anak di tengah kekacauan romansa tak terduga, meski tidak sepenuhnya lolos dari jebakan klise rom-com. Dengan penampilan solid dari Kidman, Efron, dan King, film ini menawarkan hiburan yang menyenangkan tanpa pretensi berlebih. Bagi yang mencari tawa ringan dan momen emosional sederhana, ini adalah pilihan tepat di era streaming yang penuh opsi. Pada akhirnya, film ini mengingatkan bahwa keluarga dan cinta bisa rumit, tapi selalu ada ruang untuk pengampunan dan kebahagiaan baru.