Review Film 172 Days: Berakhir Tragis Setelah 172 Hari

Review Film 172 Days: Berakhir Tragis Setelah 172 Hari

Review Film 172 Days: Berakhir Tragis Setelah 172 Hari. Film 172 Days (2023) garapan sineas muda Yandy Laurens tetap menjadi salah satu karya drama Indonesia paling menyentuh dan banyak dibicarakan sejak tayang perdana di bioskop nasional pada akhir 2023 hingga awal 2026. Berlatar di Jakarta dan Bandung tahun 2018–2019, film berdurasi 112 menit ini mengisahkan kisah nyata pasangan muda, Arga (diperankan Angga Yunanda) dan Cica (Siti Saleha), yang menikah setelah pacaran singkat dan harus menghadapi kanker payudara stadium akhir yang menyerang Cica hanya 172 hari setelah pernikahan mereka. Dengan pendekatan yang intim dan tanpa berlebihan, film ini berhasil menyampaikan rasa sakit kehilangan, kekuatan cinta, dan proses berduka dengan cara yang sangat manusiawi—sehingga banyak penonton meninggalkan bioskop dengan mata basah dan hati bergetar. REVIEW FILM

Narasi yang Berbasis Kisah Nyata dan Tempo yang Lembut: Review Film 172 Days: Berakhir Tragis Setelah 172 Hari

172 Days tidak berusaha menjadi drama air mata murahan. Yandy Laurens memilih gaya bercerita yang sederhana dan hampir dokumenter: fokus pada momen-momen kecil sehari-hari pasangan muda yang baru menikah. Awal cerita penuh kehangatan—pertemuan tak sengaja di kafe Bandung, kencan sederhana, lamaran spontan, dan pernikahan kecil yang bahagia. Semua terasa ringan dan manis seperti kehidupan pasangan biasa.
Ketika Cica didiagnosis kanker payudara stadium 4, film tidak langsung melompat ke adegan rumah sakit yang dramatis. Justru Yandy menunjukkan proses denial, pencarian pengobatan alternatif, perjuangan finansial, dan upaya tetap menjalani hidup normal meski tubuh Cica semakin lemah. Tempo film sengaja lambat untuk memberi ruang bagi penonton merasakan berapa beratnya 172 hari itu: dari harapan pengobatan pertama, kemunduran kondisi, hingga momen-momen terakhir di rumah sakit. Tidak ada voice-over berlebihan atau musik sedih yang memaksa air mata; emosi tumbuh dari dialog sehari-hari dan tatapan mata para pemeran.

Penampilan Angga Yunanda dan Siti Saleha yang Sangat Menyentuh: Review Film 172 Days: Berakhir Tragis Setelah 172 Hari

Angga Yunanda sebagai Arga memberikan penampilan paling matang dalam kariernya. Ia berhasil menampilkan transisi dari pemuda ceria yang baru menikah menjadi suami yang berusaha kuat di depan istri sambil hancur di dalam. Ekspresi wajahnya saat menemani Cica kemoterapi, saat berpura-pura tersenyum, atau saat akhirnya menangis sendirian menjadi momen yang sangat menyayat. Angga tidak berlebihan; ia justru tampil sangat tertahan—dan itulah yang membuat penonton ikut merasakan beban yang ia pikul.
Siti Saleha sebagai Cica tampil luar biasa dalam peran yang membutuhkan kerapuhan fisik sekaligus kekuatan batin. Ia berhasil menyampaikan rasa sakit fisik, ketakutan menghadapi kematian, dan cinta yang tetap besar kepada Arga meski tubuhnya semakin lemah. Chemistry keduanya terasa sangat autentik—seperti pasangan sungguhan yang saling menguatkan di tengah badai.

Tema Utama: Cinta, Kehilangan, dan Makna 172 Hari

Film ini bukan tentang kemenangan melawan kanker; ia tentang bagaimana cinta tetap ada meski tubuh perlahan menyerah. Tema utama adalah bahwa 172 hari pernikahan yang singkat tetap bermakna karena penuh cinta, pengorbanan, dan kebersamaan. Yandy Laurens tidak menghindari realitas pahit: kemoterapi yang melelahkan, rambut rontok, tubuh yang semakin kurus, dan akhir yang tidak bahagia. Namun di tengah itu semua, film menunjukkan bahwa cinta sejati bukan tentang “selamanya”, melainkan tentang seberapa dalam kita mencintai dalam waktu yang kita miliki.
Film ini juga menyentil isu kesehatan reproduksi perempuan, akses pengobatan kanker di Indonesia, dan beban emosional yang ditanggung pasangan muda. Tanpa terasa menggurui, pesan tentang pentingnya deteksi dini dan dukungan keluarga tersampaikan secara alami melalui cerita.

Kesimpulan

172 Days adalah film yang menyentuh, jujur, dan sangat manusiawi—menyajikan kisah cinta singkat tapi penuh makna dengan cara yang tidak memanipulasi emosi penonton. Penampilan Angga Yunanda dan Siti Saleha luar biasa, sementara arahan Yandy Laurens berhasil menciptakan karya yang terasa sangat dekat dengan kenyataan hidup banyak pasangan di Indonesia. Film ini bukan tentang akhir bahagia; ia tentang bagaimana kita memberi makna pada waktu yang kita miliki, meski hanya 172 hari. Hingga 2026, film ini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa cinta tidak diukur dari panjang waktu, melainkan dari kedalaman perasaan dan pengorbanan di dalamnya. Bagi siapa saja yang pernah kehilangan orang terkasih atau sedang menghadapi penyakit dalam keluarga, 172 Days adalah tontonan yang menyakitkan sekaligus menyembuhkan. Sebuah karya Indonesia yang berhasil menyentuh hati banyak orang—dan itulah kekuatan sejati sebuah film.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *