Review Film 13 The Musical Indonesia: Versi Lokal? 13: The Musical versi Netflix (2022) yang tayang secara global termasuk di Indonesia tetap jadi salah satu musikal remaja yang paling dibicarakan, terutama karena lagu-lagunya catchy dan cerita coming-of-age yang relatable. Meski bukan adaptasi resmi dengan setting Indonesia, film ini sering disebut-sebut sebagai “versi lokal” dalam hati banyak penonton Tanah Air karena nuansa remaja sekolah menengahnya terasa dekat dengan pengalaman anak muda Indonesia—drama pertemanan, tekanan sosial, dan pencarian identitas saat berusia 13 tahun. Dengan durasi 94 menit penuh lagu pop-rock karya Jason Robert Brown, film ini sukses bikin penonton bernyanyi ikut sambil merasakan pilu manis masa pubertas. Di Indonesia, banyak yang bilang ini musikal yang bisa jadi inspirasi adaptasi lokal—bayangkan kalau settingnya di Jakarta atau Bandung, dengan bahasa Indonesia dan elemen budaya kita. MAKNA LAGU
Sinopsis dan Cerita Coming-of-Age yang Universal: Review Film 13 The Musical Indonesia: Versi Lokal?
Evan Goldman (Eli Golden), bocah 12 tahun dari New York, harus pindah ke Indiana kecil setelah orang tuanya bercerai. Tepat menjelang ulang tahun ke-13 dan bar mitzvah-nya, ia berusaha menyesuaikan diri di sekolah baru yang penuh dinamika sosial rumit. Evan ingin jadi “cool” dengan bergaul sama geng populer seperti Brett (Ramon Reed) dan Kendra (Francesca McNellis), tapi ia juga berteman dengan Patrice (Gabriella Uhl), gadis pintar yang dianggap “nerd”. Konflik muncul saat Evan terjebak di antara ingin diterima dan tetap setia pada teman sejati.
Cerita berfokus pada drama remaja klasik: bullying ringan, pesta rahasia, persahabatan yang diuji, dan penemuan diri. Tidak ada villain besar atau plot twist berat—semuanya ringan, lucu, dan penuh lagu yang mudah diingat seperti “A Little More Homework”, “Brand New You”, dan “What It Means to Be a Friend”. Adaptasi dari musikal Broadway 2007 ini tetap setia pada semangat aslinya, tapi versi film lebih family-friendly dengan humor yang lebih lembut dan pesan positif tentang keberagaman serta penerimaan diri.
Musik dan Performa Anak Muda yang Menyegarkan: Review Film 13 The Musical Indonesia: Versi Lokal?
Jason Robert Brown sebagai komposer memberikan skor yang energik dan emosional—lagu-lagunya campuran pop, rock, dan Broadway klasik yang cocok untuk suara remaja. Penyanyi anak-anak di film ini luar biasa: Eli Golden membawa Evan dengan suara jernih dan ekspresi polos, Gabriella Uhl sebagai Patrice punya nada kuat yang menyentuh, dan Frankie McNellis sebagai Lucy jadi highlight dengan vokal powerful dan karisma nakal. Koreografi dan penampilan grup di panggung sekolah terasa hidup, meski beberapa kritikus bilang film ini terlalu “bersih” dibanding musikal asli yang lebih edgy.
Di Indonesia, banyak penonton muda yang langsung jatuh cinta dengan soundtrack-nya—lagu-lagu seperti “Get Me What I Need” sering diputar ulang di TikTok dan YouTube lokal. Casting anak-anak yang beragam juga jadi poin plus, membuat film ini terasa inklusif dan relatable bagi remaja dari berbagai latar belakang.
Potensi Versi Lokal dan Dampak di Indonesia
Meski bukan produksi Indonesia, 13: The Musical sering dibahas sebagai inspirasi untuk adaptasi lokal. Bayangkan kalau ceritanya diubah jadi remaja SMP di Jakarta yang menghadapi bar mitzvah ala Indonesia—mungkin arisan ulang tahun atau acara sekolah dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Elemen drama pertemanan, tekanan orang tua, dan pencarian identitas sangat cocok dengan budaya kita. Beberapa komunitas teater muda di Jakarta dan Bandung bahkan sudah menggelar produksi sekolah atau workshop berdasarkan musikal ini, menunjukkan potensi besar kalau dibuat versi lokal penuh.
Film ini tayang di Netflix Indonesia sejak 2022 dan tetap populer di kalangan keluarga serta remaja—banyak yang bilang ini musikal ringan yang pas untuk ditonton bareng orang tua tanpa terlalu berat. Kritik utamanya adalah pacing yang kadang lambat dan kurangnya kedalaman dibanding musikal Broadway asli, tapi untuk target audience tween dan family, film ini berhasil jadi hiburan menyenangkan dengan pesan positif.
Kesimpulan
13: The Musical adalah musikal remaja yang manis, energik, dan penuh lagu catchy—meski bukan versi lokal resmi, ia terasa dekat dengan pengalaman anak muda Indonesia. Cerita tentang pertemanan, identitas, dan drama pubertas disampaikan dengan ringan tapi menyentuh, didukung performa anak-anak yang segar dan musik Jason Robert Brown yang tak lekang waktu. Di Netflix Indonesia, film ini jadi pilihan tepat untuk keluarga yang ingin sesuatu yang fun sekaligus bermakna.
Bagi yang suka High School Musical atau Dear Evan Hansen versi lebih muda, ini wajib tonton. Potensinya untuk adaptasi lokal juga besar—mungkin suatu hari kita bisa lihat Evan Goldman versi Jakarta dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Sampai saat itu, versi Netflix ini tetap jadi hiburan musikal yang bikin senyum dan bernyanyi ikut. Coming-of-age yang manis, relatable, dan tak terlupakan.