Review Film Kucumbu Tubuh Indahku: Drama Transformatif. Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) garapan Garin Nugroho yang rilis 2018 tetap jadi salah satu karya sinema Indonesia paling berani dan mendalam. Terinspirasi dari pengalaman hidup penari Rianto, film ini mengikuti perjalanan hidup seorang penari lengger lanang bernama Juno, mengeksplorasi identitas diri, maskulinitas-feminitas, trauma, dan kekerasan sosial-politik di Indonesia. Dengan sentuhan artistik kuat, film ini bukan sekadar cerita coming-of-age, tapi juga kritik halus terhadap norma masyarakat yang represif.
Garin Nugroho, sutradara senior yang dikenal dengan karya-karya provokatif seperti Opera Jawa, membawa visi unik dalam film ke-19-nya ini. Diproduksi Ifa Isfansyah, film berdurasi sekitar 106 menit ini dibuat dengan cepat—persiapan dua bulan, syuting dua minggu, pascaproduksi dua bulan—tapi hasilnya sangat matang. Dibintangi Muhammad Khan sebagai Juno dewasa, Raditya Evandra sebagai Juno kecil, Rianto sebagai narator dan koreografer, serta aktor seperti Sujiwo Tejo, film ini tayang perdana di Venice Film Festival 2018 (Orizzonti), lalu Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan bioskop Indonesia pada April 2019. Meski menuai pujian internasional, di tanah air ia sempat kontroversial karena dianggap berbau LGBT, bahkan diboikot dan dilarang tayang di beberapa daerah seperti Padang, Palembang, dan Pekanbaru. MAKNA LAGU
Alur Cerita yang Penuh Lapisan: Review Film Kucumbu Tubuh Indahku: Drama Transformatif
Film terbagi dalam empat episode kehidupan Juno. Dimulai dari masa kecil, Juno ditinggalkan ayahnya di desa Jawa Tengah. Sendirian, ia bergabung dengan sanggar tari lengger, tarian tradisional di mana pria berpakaian dan bergerak feminin. Di sini, ia belajar melebur maskulinitas dan feminitas melalui tubuhnya. Sensualitas tarian bertabrakan dengan kekerasan lingkungan—dari kekerasan domestik, politik era Orde Baru, hingga trauma sosial.
Juno dewasa terus berpindah desa ke desa, menghadapi penolakan, kekerasan, dan pencarian identitas. Ia berteman dengan petinju muda dan guru tari tua, tapi hubungan-hubungan itu sering berujung pahit karena norma masyarakat yang kaku. Garin Nugroho tak langsung menyorot isu LGBT secara eksplisit, tapi melalui perjalanan tubuh Juno yang penuh luka—dari pelecehan hingga kekerasan politik—ia menunjukkan bagaimana tubuh menjadi saksi sejarah pribadi dan kolektif. Judul “Kucumbu Tubuh Indahku” (secara harfiah “Aku Mencumbu Tubuh Indahku”) bermakna dalam: tentang mencintai diri sendiri di tengah penolakan luar, sementara judul Inggris “Memories of My Body” menekankan ingatan trauma yang melekat pada fisik.
Sinematografi Artistik dan Penampilan Memukau: Review Film Kucumbu Tubuh Indahku: Drama Transformatif
Visual film ini memanjakan mata. Sinematografi Teoh Gay Hian menangkap keindahan gerak lengger dengan lembut tapi intens, kontras dengan kekerasan yang kasar. Produksi desain Ong Hari Wahyu membangun nuansa pedesaan Jawa autentik, sementara musik Mondo Gascaro menambah lapisan emosional. Koreografi Rianto jadi jantung film—tarian bukan sekadar adegan, tapi metafor transformasi identitas.
Penampilan para aktor luar biasa. Raditya Evandra membawa Juno kecil dengan polos dan rapuh, sementara Muhammad Khan sebagai Juno dewasa menampilkan kedalaman emosi yang kuat—dari kebingungan hingga penerimaan diri. Rianto sebagai narator memberikan sentuhan personal yang menyentuh. Sujiwo Tejo dan aktor pendukung lainnya menambah kekayaan karakter. Garin Nugroho berhasil menyatukan elemen budaya Jawa (lengger, reog, warok-gemblak) dengan isu universal seperti self-love, trauma, dan perlawanan terhadap norma patriarkal.
Kesimpulan
Kucumbu Tubuh Indahku adalah drama transformatif yang jarang ditemui di sinema Indonesia—berani, artistik, dan penuh makna. Meski sempat diboikot karena kontroversi, film ini mendapat banyak pujian: 12 nominasi di Festival Film Indonesia 2019, penghargaan Cultural Diversity di Asia Pacific Screen Awards 2018, dan apresiasi di festival internasional seperti Venice dan Rotterdam. Ia mengajak penonton merenung tentang penerimaan diri di tengah masyarakat yang sering menolak perbedaan, sekaligus merayakan keindahan tubuh dan budaya lokal. Bagi pecinta film yang mencari karya mendalam, ini wajib tonton—sebuah perjalanan yang menyentuh hati dan pikiran, meski kadang menyakitkan.