Review Film Ninja Assassin. Film Ninja Assassin yang dirilis pada 2009 tetap menjadi salah satu tontonan aksi yang penuh darah dan adrenalin, meski sudah berusia lebih dari satu dekade. Disutradarai oleh James McTeigue, film ini mengikuti perjalanan Raizo, seorang ninja pembelot yang dibesarkan oleh klan rahasia Ozunu sejak kecil. Dibintangi oleh Rain sebagai Raizo dan Naomie Harris sebagai agen Europol yang menyelidiki klan tersebut, cerita berfokus pada balas dendam Raizo terhadap klan yang membunuh teman dekatnya, sambil melindungi agen tersebut dari serangan ninja. Film ini menjanjikan aksi tanpa henti dengan elemen gore yang ekstrem, membuatnya cocok bagi penggemar martial arts brutal. TIPS MASAK
Plot dan Alur Cerita: Review Film Ninja Assassin
Cerita Ninja Assassin sederhana tapi efektif sebagai kendaraan aksi. Raizo, dilatih sejak kecil oleh Lord Ozunu—diperankan oleh legenda ninja Sho Kosugi—menjadi pembunuh bayaran terlatih. Setelah menyaksikan eksekusi kejam terhadap gadis yang dicintainya karena mencoba kabur, Raizo memberontak dan menghilang. Di sisi lain, agen Mika Coretti menemukan jejak uang yang menghubungkan pembunuhan politik dengan klan ninja misterius. Saat klan menargetkan Mika, Raizo muncul untuk melindunginya sambil memburu mantan mentornya. Alur bolak-balik antara flashback pelatihan brutal Raizo dan aksi masa kini, meski tipis, cukup untuk menghubungkan adegan pertarungan yang menjadi inti film.
Aksi dan Visual yang Menonjol: Review Film Ninja Assassin
Ini adalah kekuatan utama Ninja Assassin: adegan aksi yang brutal dan inovatif. Pertarungan pedang, shuriken, dan rantai berdarah-darah disajikan dengan koreografi cepat dan efek gore yang berlebihan—anggota tubuh terpotong, darah menyembur seperti air mancur. Rain tampil meyakinkan sebagai ninja pendiam tapi mematikan, dengan tubuh atletis yang mendukung gerakan akrobatiknya. Sho Kosugi sebagai antagonis memberikan nuansa klasik film ninja 80-an, sementara Naomie Harris menambahkan elemen manusiawi sebagai agen yang terkejut dengan dunia ninja. Visual gelap dengan pencahayaan dramatis dan slow-motion memperkuat sensasi, meski editing cepat kadang membuat adegan terasa chaotic.
Kelemahan dan Penerimaan
Meski aksi memuaskan, film ini sering dikritik karena plot tipis dan karakter kurang berkembang. Dialog minim, fokus hampir sepenuhnya pada kekerasan, membuatnya terasa seperti video game daripada cerita mendalam. Saat rilis, penerimaan kritikus campuran—banyak yang bilang terlalu serius dan editing membingungkan, tapi penggemar aksi menghargai gore-nya yang over-the-top. Secara komersial, film ini cukup sukses moderat dengan pendapatan global di atas biaya produksi, dan kini sering muncul di daftar streaming bagi yang mencari tontonan ringan penuh ledakan darah.
Kesimpulan
Ninja Assassin adalah film aksi murni yang tidak berpura-pura jadi lebih dari itu: darah, ninja, dan balas dendam tanpa henti. Jika mencari hiburan intens dengan pertarungan brutal dan visual gore kreatif, film ini masih layak ditonton ulang di era sekarang. Rain dan Sho Kosugi menjadi highlight, meski cerita sederhana dan editing cepat jadi kekurangan utama. Bagi penggemar martial arts modern dengan sentuhan klasik, ini tetap jadi pilihan solid untuk malam santai penuh adrenalin—hanya saja, jangan harapkan kedalaman emosional yang berlebih.