Review Film Frances Ha. Film Frances Ha (2012) karya Noah Baumbach tetap jadi referensi utama soal quarter-life crisis di kalangan milenial dan Gen Z. Dibintangi Greta Gerwig sebagai Frances—penari modern 27 tahun yang berjuang di New York—film hitam-putih ini raih pujian kritis, termasuk nominasi Golden Globe dan César Award. Di 2025, film ini trending lagi lewat diskusi TikTok tentang adulting dan restreaming di platform klasik. Review ini kupas kenapa cerita sederhana ini terasa begitu nyata: kegagalan kecil, persahabatan rapuh, dan pencarian jati diri di kota besar yang tak kenal ampun. BERITA BOLA
Gaya Visual Hitam-Putih yang Ikonik: Review Film Frances Ha
Pilihan syuting hitam-putih ala French New Wave bikin Frances Ha terlihat timeless. Cinematography Sam Levy tangkap New York sebagai labirin abu-abu: apartemen sempit, jalan Brooklyn malam hari, dan studio tari yang dingin. Gerakan kamera handheld ikuti langkah kikuk Frances—seperti saat dia lari sendirian di trotoar dengan suara Scorsese-style jazz.
Efeknya? Realisme mentah tanpa filter Instagram. Durasi 86 menit terasa cepat, tapi setiap frame penuh detail: tumpukan tagihan, kamar sewa berganti, atau senyum paksa saat wawancara kerja. Gaya ini bukan gimmick—ini cerminan jiwa Frances yang stuck di limbo, di mana warna cerah terasa terlalu mewah untuk hidupnya.
Performa Greta Gerwig: Jiwa Film Ini: Review Film Frances Ha
Greta Gerwig bukan cuma bintang, tapi co-writer yang bawa autobiografi ke layar. Frances-nya clumsy tapi charming: jatuh saat tari, ngomel soal teman, tapi tetap optimis konyol. Adegan ikonik “dog-child” saat dia bilang “I’m Frances, I live in New York” ke ATM tunjukkan momen self-realization yang awkward tapi powerful.
Mimi Nixon sebagai Sophie—sahabat yang “dewasa”—ciptakan dinamika bittersweet: dari tidur bareng sampai pertengkaran soal cowok. Adam Driver cameo sebagai sukses tapi kesepian tambah lapisan. Performa ensemble terasa improvisasi, hasil workshop Baumbach-Gerwig, bikin dialog alami seperti curhat teman dekat.
Tema Quarter-Life Crisis yang Abadi
Inti film: transisi dewasa tak linear. Frances gagal dapat peran tari tetap, pindah apartemen lima kali, kerja temp, tapi tak pernah menyerah mimpi. Persahabatan jadi jangkar utama—saat Sophie pindah ke Tokyo, Frances hancur tapi belajar mandiri. Tak ada villain; kegagalan datang dari sistem: kompetisi tari brutal, sewa New York melonjak, dan ekspektasi sosial usia 27.
Baumbach hindari moralisasi—film akhiri dengan Frances dapat peran, tapi bukan happy ending klise. Ini kritik halus pada hustle culture: sukses tak selalu berarti kaya atau stabil. Di 2025, tema ini resonan banget dengan gig economy dan delayed adulthood.
Relevansi 2025: Mengapa Masih Harus Ditonton
Di era remote work dan mental health awareness, Frances Ha jadi terapi visual. Generasi muda relate pada FOMO-nya Frances saat lihat teman settle, atau rasa “imposter” di pesta orang kaya. Streaming spike 40% tahun ini berkat meme “Frances Ha moments” di TikTok—dari outfit androgini sampai playlist joget sendirian.
Film ini inspirasi indie baru: dialog cepat dan ending ambigu. Kritikus bilang, ini blueprint mumblecore matang—realistis tanpa pretensius. Cocok ditonton bareng teman saat weekend, sambil diskusi mimpi yang tertunda.
Kesimpulan
Frances Ha adalah potret jujur kegagalan sebagai bagian pertumbuhan, dengan Greta Gerwig sebagai jantung yang berdetak. Gaya hitam-putih dan tema abadinya bikin film ini tak lekang—malah makin relevan di 2025 saat banyak yang merasa “stuck” seperti Frances. Bukan film sukses instan, tapi pengingat: kadang lari sendirian di New York justru awal kemenangan. Nonton sekarang, dan rasakan lega saat kredit bergulir.