Review Film Akira: Cyberpunk Jepang Legendaris. Akira (アキラ) karya Katsuhiro Otomo yang tayang perdana Juli 1988 tetap dianggap sebagai salah satu film anime paling berpengaruh dan legendaris sepanjang masa. Film ini bukan hanya sukses besar di Jepang—meraup pendapatan domestik setara lebih dari 800 juta yen pada masa itu—tapi juga membuka mata dunia Barat terhadap anime dewasa dengan kualitas sinematik tinggi. Dengan rating 91% di Rotten Tomatoes (kritikus) dan 89% dari penonton, serta skor 8.0/10 di IMDb, Akira berhasil mengukuhkan genre cyberpunk dalam animasi. Lebih dari tiga dekade berlalu, film ini masih sering disebut sebagai masterpiece yang mengubah cara orang memandang anime—dari hiburan anak menjadi medium seni dewasa yang kompleks, gelap, dan visioner. BERITA TERKINI
Narasi Distopia yang Visioner: Review Film Akira: Cyberpunk Jepang Legendaris
Cerita berlatar Neo-Tokyo tahun 2019 (saat itu masih masa depan), kota yang dibangun kembali setelah Perang Dunia III. Kaneda (Iwata Mitsuo), pemimpin geng motor, dan sahabatnya Tetsuo (Suzuki Nozomu) terlibat dalam insiden misterius ketika Tetsuo tertabrak anak eksperimen militer yang memiliki kekuatan psikis luar biasa. Tetsuo kemudian diculik dan dijadikan subjek eksperimen “Akira”, proyek rahasia pemerintah yang ternyata merupakan anak dengan kekuatan destruktif mengerikan. Narasi Akira sangat gelap dan kompleks untuk standar anime tahun 80-an: korupsi pemerintah, eksperimen manusia, pemberontakan remaja, dan kehancuran kota akibat kekuatan yang tak terkendali. Twist besar di akhir—terutama identitas Akira dan kekuatan Tetsuo yang membawa kehancuran total—masih jadi salah satu momen paling mengguncang dalam sejarah animasi. Film ini tidak memberikan jawaban mudah; ia meninggalkan penonton dengan rasa ngeri dan pertanyaan tentang kekuasaan, identitas, dan kehancuran diri.
Visual dan Animasi yang Revolusioner: Review Film Akira: Cyberpunk Jepang Legendaris
Akira adalah tonggak sejarah dalam animasi Jepang. Dengan budget sekitar 1,1 miliar yen (terbesar untuk anime pada masanya), Otomo menghadirkan detail visual yang belum pernah ada sebelumnya: Neo-Tokyo yang megah tapi rusak, motor futuristik, efek ledakan yang sangat realistis, dan animasi cair yang mulus. Adegan ikonik seperti Tetsuo menghancurkan kota dengan kekuatan psikisnya atau ledakan besar di akhir film masih terasa sangat impresif bahkan di era CGI modern. Desain karakter Otomo sangat khas: proporsi tubuh yang agak realistis, ekspresi wajah yang intens, dan detail kecil seperti bayangan, asap, dan partikel ledakan dibuat dengan teliti. Warna neon, gelapnya malam kota, dan efek cahaya membuat setiap frame terasa seperti lukisan cyberpunk yang hidup.
Soundtrack dan Pengaruh Budaya
Musik karya Yamashiro Shoji menjadi salah satu soundtrack anime paling ikonik: campuran orkestra dramatis, synth gelap, dan elemen industrial yang sangat mendukung suasana dystopia. Tema utama dengan suara paduan suara yang menyeramkan langsung terngiang di kepala penonton. Akira bukan hanya film—ia jadi fenomena budaya. Film ini membuka jalan bagi anime dewasa di Barat, memengaruhi film seperti The Matrix, Stranger Things, dan banyak karya cyberpunk Hollywood. Desain Neo-Tokyo dan estetika motornya masih sering ditiru hingga sekarang. Di Indonesia, Akira menjadi salah satu anime klasik pertama yang populer di kalangan penggemar pada era 90-an dan awal 2000-an melalui VCD bajakan, dan tetap jadi referensi utama ketika orang membahas anime cyberpunk.
Warisan dan Mengapa Masih Relevan
Akira berhasil mengubah persepsi bahwa anime hanya untuk anak-anak. Ia membuktikan bahwa animasi bisa menyampaikan cerita dewasa, gelap, dan filosofis dengan kualitas sinematik setara live-action. Tema tentang kekuasaan yang korup, eksperimen manusia, dan kehancuran akibat ambisi masih sangat relevan di era modern. Film ini juga menjadi inspirasi bagi banyak sutradara dan animator, termasuk di Hollywood. Hingga sekarang, Akira masih sering masuk daftar “best anime ever”, “most influential animated films”, dan “greatest cyberpunk stories”. Banyak penonton mengaku merinding dan terdiam lama setelah menonton karena endingnya yang menghancurkan dan penuh makna.
Kesimpulan
Akira pantas disebut sebagai masterpiece cyberpunk Jepang yang abadi. Dengan narasi dystopia yang gelap, visual revolusioner, musik ikonik, dan pesan mendalam tentang kekuasaan serta kehancuran diri, film ini berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang sulit dilupakan. Hayao Miyazaki mungkin lebih dikenal dengan karya-karya fantasi hangat, tapi Katsuhiro Otomo membuktikan bahwa anime bisa sangat brutal, dewasa, dan visioner. Jika Anda belum menonton, ini adalah film yang wajib ditonton—siapkan diri karena endingnya akan mengguncang. Bagi yang sudah menonton berkali-kali, setiap ulang tahun rilisnya tetap terasa seperti pukulan baru—merinding masih muncul. Akira bukan sekadar film anime—ia adalah tonggak sejarah yang mengubah cara dunia memandang animasi Jepang. Layak ditonton sekali seumur hidup, tapi efeknya bertahan selamanya.